
Suatu hari di sore yang mendung di pinggiran kota Bogor seorang ibu bercerita padaku dengan wajah yang murung tentang anak gadisnya yang semata wayang, Aryati namanya.
"Aku sungguh mencintai dengan segenap jiwa ragaku, kubesarkan dia dengan penuh kasih sayang, dia satu-satunya anakku ..." matanya berkaca-kaca sebenarnya tanpa mengatakan hal tersebut aku sudah tahu kalau Aryati adalah satu-satunya anaknya, karena Aryati adalah temanku,teman baruku yang memiliki kebiaasaan menyuruh-nyuruh mungkin dimatanya aku adalah pelayannya.
Tanpa sadar aku menitikan air mata dan kuusap jari-jarinya perlahan berharap si ibu bisa lebih tenang, dengan suara perlahan ibu yang sedang merana itu melanjutkan ceritanya
" Sewaktu anakku lulus SMP , dia dilamar laki-laki teman mainnya yang lebih tua 5 tahun dan belum memiliki pekerjaan ,tentu saja aku menolaknya, bagaimana mungkin aku mengawinkan anak gadisku dia masih terlalu kecil, aku masih mampu membiayai hingga anakku menjadi wanita yang berpendidikan...." dan kembali suara ibu yang merana ini sesenggukan, kuambil kertas tisu dari tasku dan kuusap air matanya perlahan, dan tanpa kuminta ibu tua ini melanjutkan ceritanya.
"Semenjak itu anak gadisku memusuhiku dan memutuskan untuk tidak menikah dengan siapapun" ini pun aku sudah tahu Aryati bukannya tidak mau menikah tapi setiap kali berkenalan dengan laki-laki Aryati selalu membandingkannya dengan mantan pacarnya yang sudah menjadi manager sebuah peusahaan , Aryati masih mencintai mantan pacarnya sekalipun pacarnya sudah memiliki keluarga dan hidup bahagia dan tak ada satupun pemuda yang bisa menaklukan kesombongan dan kebekuan hati Aryati.
Ini adalah percakapan terakhir aku dan ibunya Aryati , beberapa saat setelah aku kembali ke Jakarta aku mendengar beliau meninggal dunia karena sakit.
Aryati , aku tak bisa berkata apa-apa , hatiku teriris-iris setiap mengenangmu, mengenang ibumu bahkan tak jarang pertemuan terakhir dengan ibumu muncul dalam mimpi-mimpiku, mimpi seorang ibu yang ingin menikahkan anaknya setelah cukup dewasa, mimpi seorang ibu yang berharap bisa melihat anaknya bahagia, sungguh Aryati siang ini aku mengenangmu karena anak gadisku mulai beranjak dewasa dan aku sangat mencintainya dan seperti ibu -ibu yang lain pasti selalu berharap anak gadisnya selalu menjadi bunga yang harum yang bisa membahagiakan lingkungannya dan terutama orang tuanya.
Aryati, aku sangat menghargai keputusanmu memilih tidak menikah tetapi membuat hati ibu sakit dan kecewa, Ohhhh Tuhan jangan sampai itu terjadi padaku dan anak-anakku.
Setiap kali aku mengingat hal ini aku merasakan betapa beratnya mendidik anak, kadang apa yang orang tua harapkan untuk kebaikan putrinya ternyata tidak bisa dipahami, kembali aku pasrahkan anak-anakku kepada ALLAH SWT , aku titipkan pada kekuasaan Tuhan. Tanganku terlalu kecil pengetahuanku terlalu rendah untuk dapat menyelami isi hati anak-anakku. Aku hanya ingin anak-anakku tahu kalau orang tuanya menyiapkannya untuk survive dalalam kehidupannya dimasa mendatang.
"Aku sungguh mencintai dengan segenap jiwa ragaku, kubesarkan dia dengan penuh kasih sayang, dia satu-satunya anakku ..." matanya berkaca-kaca sebenarnya tanpa mengatakan hal tersebut aku sudah tahu kalau Aryati adalah satu-satunya anaknya, karena Aryati adalah temanku,teman baruku yang memiliki kebiaasaan menyuruh-nyuruh mungkin dimatanya aku adalah pelayannya.
Tanpa sadar aku menitikan air mata dan kuusap jari-jarinya perlahan berharap si ibu bisa lebih tenang, dengan suara perlahan ibu yang sedang merana itu melanjutkan ceritanya
" Sewaktu anakku lulus SMP , dia dilamar laki-laki teman mainnya yang lebih tua 5 tahun dan belum memiliki pekerjaan ,tentu saja aku menolaknya, bagaimana mungkin aku mengawinkan anak gadisku dia masih terlalu kecil, aku masih mampu membiayai hingga anakku menjadi wanita yang berpendidikan...." dan kembali suara ibu yang merana ini sesenggukan, kuambil kertas tisu dari tasku dan kuusap air matanya perlahan, dan tanpa kuminta ibu tua ini melanjutkan ceritanya.
"Semenjak itu anak gadisku memusuhiku dan memutuskan untuk tidak menikah dengan siapapun" ini pun aku sudah tahu Aryati bukannya tidak mau menikah tapi setiap kali berkenalan dengan laki-laki Aryati selalu membandingkannya dengan mantan pacarnya yang sudah menjadi manager sebuah peusahaan , Aryati masih mencintai mantan pacarnya sekalipun pacarnya sudah memiliki keluarga dan hidup bahagia dan tak ada satupun pemuda yang bisa menaklukan kesombongan dan kebekuan hati Aryati.
Ini adalah percakapan terakhir aku dan ibunya Aryati , beberapa saat setelah aku kembali ke Jakarta aku mendengar beliau meninggal dunia karena sakit.
Aryati , aku tak bisa berkata apa-apa , hatiku teriris-iris setiap mengenangmu, mengenang ibumu bahkan tak jarang pertemuan terakhir dengan ibumu muncul dalam mimpi-mimpiku, mimpi seorang ibu yang ingin menikahkan anaknya setelah cukup dewasa, mimpi seorang ibu yang berharap bisa melihat anaknya bahagia, sungguh Aryati siang ini aku mengenangmu karena anak gadisku mulai beranjak dewasa dan aku sangat mencintainya dan seperti ibu -ibu yang lain pasti selalu berharap anak gadisnya selalu menjadi bunga yang harum yang bisa membahagiakan lingkungannya dan terutama orang tuanya.
Aryati, aku sangat menghargai keputusanmu memilih tidak menikah tetapi membuat hati ibu sakit dan kecewa, Ohhhh Tuhan jangan sampai itu terjadi padaku dan anak-anakku.
Setiap kali aku mengingat hal ini aku merasakan betapa beratnya mendidik anak, kadang apa yang orang tua harapkan untuk kebaikan putrinya ternyata tidak bisa dipahami, kembali aku pasrahkan anak-anakku kepada ALLAH SWT , aku titipkan pada kekuasaan Tuhan. Tanganku terlalu kecil pengetahuanku terlalu rendah untuk dapat menyelami isi hati anak-anakku. Aku hanya ingin anak-anakku tahu kalau orang tuanya menyiapkannya untuk survive dalalam kehidupannya dimasa mendatang.
Kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya takan pernah habis sekalipun anaknya ada di jalan yang salah, perhatikanlah disetiap tayangan tv dimana abaknya diberitakan telah ditangkap polisi karena narkoba ataupun akibat tawuran. Ibunya menangis dan menjenguknya tanpa rasa malu karena beliau tidak mungkin mengajarkan anak2nya untuk berbuat dijalan yang salah, walau bagaimanapun beliau tetap menginginkan anaknya jadi orang yang saleh dan beriman. salam.
BalasHapus